Pedagang Es Cincau Mojokerto Naik Kelas Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Dosen Universitas Narotama
31 Juli 2026, 20:19:35 Dilihat: 103x
Komitmen Universitas Narotama dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi terus diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha mikro. Salah satunya dilakukan oleh tim dosen lintas fakultas yang mendampingi kelompok pedagang es cincau di Kota Mojokerto agar mampu meningkatkan kualitas produksi, tata kelola usaha, hingga pemasaran secara berkelanjutan.
Ketua tim pengabdian, I.G.A. Aju Nitya Dharmani, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Narotama, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, dengan sasaran satu kelompok pedagang es cincau yang beranggotakan sepuluh orang.
Program tersebut merupakan hibah pengabdian kepada masyarakat yang didanai melalui Universitas Narotama dan Kementerian Pendidikan Tinggi.
Tim pelaksana terdiri atas I.G.A. Aju Nitya Dharmani, S.E., M.M. sebagai ketua, Wiwin Agus Kristiani, S.T., M.T. dari Fakultas Ilmu Komputer, Julistyana Tistogondo, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik, serta dua mahasiswa yang turut berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Menurut I.G.A. Aju Nitya Dharmani, kelompok pedagang tersebut selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, salah satunya hanya memiliki satu gerobak usaha yang digunakan secara bergantian oleh para anggota kelompok. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas dan pendapatan belum dapat berkembang secara optimal.
"Melihat kondisi di lapangan, kami tergerak untuk membantu mereka. Kami berdiskusi mengenai kebutuhan yang paling mendesak agar usaha mereka dapat berkembang, salah satunya dengan meningkatkan jumlah gerobak sehingga para anggota tidak lagi harus bergantian berjualan," ujarnya.
Selain memberikan pendampingan terhadap aspek sarana usaha, tim pengabdian juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas produksi yang memenuhi standar higienitas. Para pedagang memperoleh edukasi mengenai pentingnya penggunaan sarung tangan, celemek, penutup kepala (hairnet), menjaga kebersihan selama proses produksi, serta menghindari kebiasaan merokok saat mengolah produk.
Pendampingan tersebut dilakukan karena seluruh cincau diproduksi secara mandiri mulai dari pengolahan daun cincau hingga menjadi minuman siap konsumsi. Dengan penerapan standar kebersihan yang lebih baik, produk diharapkan memiliki kualitas yang lebih aman dan layak dikonsumsi masyarakat.
Tidak hanya dari sisi produksi, tim Universitas Narotama juga memberikan pembinaan mengenai pengelolaan keuangan usaha. Para anggota kelompok didampingi untuk memisahkan keuntungan usaha, modal kerja, serta dana investasi sehingga usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Kami ingin mereka tidak hanya mampu berjualan, tetapi juga memahami bagaimana mengelola bisnis secara profesional. Pengelolaan keuangan yang baik menjadi salah satu fondasi agar usaha dapat terus berkembang," jelasnya.
Selama proses pendampingan, tim juga menemukan berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro, mulai dari keterbatasan sarana produksi hingga kenaikan harga bahan dan kemasan yang memengaruhi biaya operasional. Meski demikian, semangat para pedagang untuk terus berkembang tetap tinggi.
Respon positif juga ditunjukkan oleh para anggota kelompok yang merasa terbantu dengan pendampingan yang diberikan. Selain memperoleh wawasan baru mengenai higienitas dan manajemen usaha, mereka juga berharap ke depan dapat memiliki tambahan gerobak sehingga seluruh anggota dapat berjualan secara bersamaan.
Lebih jauh, I.G.A. Aju Nitya Dharmani mengungkapkan bahwa program ini memiliki visi jangka panjang. Tim berharap usaha es cincau khas Mojokerto dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah sekaligus ikon kuliner lokal.
Menurutnya, telah muncul ketertarikan dari sejumlah pelaku usaha untuk mengembangkan konsep tagmap atau penanda identitas daerah sehingga es cincau dapat menjadi salah satu ikon khas Kota Mojokerto. Ke depan, konsep tersebut direncanakan dikembangkan melalui pusat penjualan (station) dengan tampilan yang lebih modern, didukung inovasi varian produk, penggunaan media sosial sebagai sarana pemasaran, hingga pengembangan berbagai pilihan topping yang sesuai dengan selera masyarakat saat ini.
Selain itu, tim juga menargetkan agar kelompok usaha tersebut secara bertahap mampu memenuhi berbagai standar legalitas usaha, termasuk memperoleh sertifikasi halal serta memiliki dapur produksi yang memenuhi standar keamanan pangan.
"Kami berharap mereka benar-benar naik kelas. Dimulai dari penerapan higienitas, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, hingga nantinya memiliki sertifikasi halal dan fasilitas produksi yang lebih representatif," ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, dua mahasiswa yang terlibat juga memperoleh pengalaman langsung mendampingi masyarakat. Mereka membantu berbagai kegiatan mulai dari persiapan lapangan, evaluasi, hingga penyusunan desain media pendukung. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) sekaligus implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Menutup wawancara, I.G.A. Aju Nitya Dharmani berharap program pengabdian ini mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban yang transparan terhadap dana hibah pemerintah.
"Kami berharap seluruh program dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, tepat sasaran, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Semoga pada tahun berikutnya pendampingan ini dapat dilanjutkan sehingga para pedagang semakin berkembang, memiliki usaha yang lebih profesional, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya," pungkasnya.